Tahun 2019 Masih Ada Padam Listrik Se-Jawa, Ini Kata PLN

Plt Direktur Utama PT PLN (Persero) Sripeni Inten meminta maaf atas terjadinya pemadaman listrik yang terjadi sejak pukul 11.45 pada Minggu 4 Agustus 2019.
Ia menceritakan kronologi pemadaman yang terjadi dan melumpuhkan sebagian besar wilayah Jawa ini, yakni pada pukul 11.45 detik 27 terjadi gangguan saluran udara di Ungaran pada sirkuit 1. "Kemudian disusul gangguan sirkuit kedua, akibatnya di menit 48 detik ke 11 menyebabkan jaringan Depok-Tasik alami gangguan," katanya saat menggelar konferensi pers di P2B Gandul, Minggu (4/8/2019).
Sripendi sendiri baru menjabat sebagai PLT Dirut 2 hari lalu, lalu tiba-tiba dihadapkan pemadaman listrik besar-besaran. Menurut catatan CNBC Indonesia, peristiwa pemadaman ini termasuk tragedi besar di sektor kelistrikan.
Sripeni menjelaskan kejadian seperti ini pernah terjadi tahun 1997, yakni terjadi black-out Jawa-Bali. "Dan memakan waktu cukup lama, setelah itu September 2018 terjadi parsial di Grati area Paiton, saat itu terjadi tegangan ekstra tinggi. Jadi kalau dilihat dari kurun waktu, Alhamdulillah ini tidak sering ya."
Ia mengatakan hal seperti ini sangat dihindari oleh PLN dan menjadi fokus untuk diatasi PLN segera.
Catatan CNBC Indonesia Pada 18 Agustus 2005 sekira pukul 09:00 WIB, pasokan listrik di Jawa-Bali juga pernah mendadak putus. Penyebabnya adalah kerusakan jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV Saguling, Cibinong, dan Cilegon. Ini membuat sistem kehilangan pasokan hampir 50%.
Dalam hitungan PT PLN (Persero) kala itu, pemadaman listrik dirasakan oleh 120 juta pelanggan atau separuh penduduk Indonesia. Di daerah Jakarta dan Banten, pemadaman memang 'hanya' sekitar 3 jam. Namun untuk seluruh Jawa-Bali membutuhkan waktu hingga 24 jam.
Insiden itu sampai mendapat perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 22 Agustus, SBY menggelar rapat dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Kapolri Sutanto, dan Kepala BIN Syamsir Siregar. Namun pemerintah menegaskan pemadaman massal kala itu tidak terkait dengan aksi sabotase atau terorisme, hanya kesalahan teknis. (gus)
No comments:
Post a Comment