Data Ekspor-Impor dan Minyak Naik Bikin Harga SUN Terkoreksi

Yield Obligasi Negara Acuan 16 Sep'19
Seri | Jatuh tempo | Yield 13 Sep'19 (%) | Yield 14 Sep'19 (%) | Selisih (basis poin) | Yield wajar IBPA 13 Sep'19 (%) |
FR0077 | 5 tahun | 6.605 | 6.644 | 3.90 | 6.5571 |
FR0078 | 10 tahun | 7.203 | 7.227 | 2.40 | 7.1389 |
FR0068 | 15 tahun | 7.651 | 7.68 | 2.90 | 7.6157 |
FR0079 | 20 tahun | 7.732 | 7.741 | 0.90 | 7.6965 |
Avg movement | 2.53 |
Sumber: Refinitiv
Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 532 bps, melebar dari posisi kemarin 530 bps.
Yield US Treasury 10 tahun naik 0,2 bps hingga 1,9% dari posisi akhir pekan lalu 1,89%.
Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada pasangan tenor 3 bulan-5 tahun, 2 tahun-5 tahun, 3 tahun-5 tahun, dan 3 bulan-10 tahun, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.
Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada yield tenor 2 tahun-10 tahun yang mulai terjadi pada awal tahun tetapi timbul dan tenggelam, sebagai indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain.
Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.
Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.
Yield US Treasury Acuan 16 Sep'19
Seri | Benchmark | Yield 13 Sep'19 (%) | Yield 14 Sep'19 (%) | Selisih (Inversi) | Satuan Inversi |
UST BILL 2019 | 3 Bulan | 1.961 | 1.966 | 3 bulan-5 tahun | 20.9 |
UST 2020 | 2 Tahun | 1.802 | 1.804 | 2 tahun-5 tahun | 4.7 |
UST 2021 | 3 Tahun | 1.761 | 1.766 | 3 tahun-5 tahun | 0.9 |
UST 2023 | 5 Tahun | 1.751 | 1.757 | 3 bulan-10 tahun | 6.5 |
UST 2028 | 10 Tahun | 1.899 | 1.901 | 2 tahun-10 tahun | -9.7 |
Sumber: Refinitiv
Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.019,01 triliun SBN, atau 38,37% dari total beredar Rp 2.655 triliun berdasarkan data per 12 September.
Angka kepemilikannya masih positif Rp 125,76 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih aik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke dari pasar SUN senilai Rp 8,44 triliun dan sejak awal bulan Rp 9,41 triliun.
Koreksi di pasar surat utang hari ini juga terjadi pada IHSG dan rupiah di pasar valas, yang turun 1,75% menjadi 6.221 serta 0,54% menjadi Rp 14.035 per dolar AS.
Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, koreksi terjadi sehingga yield mayoritas obligasi negara naik. Hal tersebut mencerminkan investor global sedang menghindari obligasi pemerintah.
Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
Negara | Yield 13 Sep'19 (%) | Yield 14 Sep'19 (%) | Selisih (basis poin) |
Brasil | 7.375 | 7.415 | 4.00 |
China | 3.094 | 3.11 | 1.60 |
Jerman | -0.453 | -0.446 | 0.70 |
Prancis | -0.18 | -0.169 | 1.10 |
Inggris | 0.76 | 0.762 | 0.20 |
India | 6.63 | 6.704 | 7.40 |
Jepang | -0.155 | -0.157 | -0.20 |
Malaysia | 3.34 | 3.355 | 1.50 |
Filipina | 4.731 | 4.744 | 1.30 |
Rusia | 7.01 | 7 | -1.00 |
Singapura | 1.757 | 1.782 | 2.50 |
Thailand | 1.615 | 1.6 | -1.50 |
Amerika Serikat | 1.899 | 1.901 | 0.20 |
Afrika Selatan | 8.1 | 8.14 | 4.00 |
Sumber: Refinitiv
TIM RISET CNBC INDONESIA
(irv/hps)
No comments:
Post a Comment